Apa Kabarmu?

(Tarik nafas)

“Bagaimana kabarmu?”

….., Sudah lama sepertinya kita tidak bercengkrama, bercerita tentang seluk beluk perjalanan. Bagaimana kabarmu? Apakah kau masih berbicara selembut dahulu? Eh, eh, eh itu mah Sebuah Tanya si Gie ya.

Perjalanan kadang tidak hanya berpijak dari kilometer sekian ke belantara atau sebaliknya. Sudahlah, perjalanan pun bukan membedah seberapa jauh lompatanmu. Duduk di satu titik dalam waktu 2 (dua) jam bisa jadi sering kali kita melakukan hijrah kecil terutama dalam pikiran.

Iya, mirip Juli Baker di penggalan Flipped – gadis remaja yang sangat menyayangi pohon tin tumbuh meninggi di persimpangan rumah. Seharian dia bisa nongkrong di atas pohon besar yang mengakar hampir seusianya, selalu saja menikmati pandangan dan khayalan. Ok, pandangan dan khayalan. Bisa jadi keduanya saling terkoneksi. Melayang, mengawan, ke kanan ke kiri atau kadang dengan sengaja pasang setting plot terperosok atau menyelinap ke awan. Kamu termasuk tim Juli Baker atau bukan?

masyaallah, tabarakallah
anyaenya.com

Hmm, iya ada begitu banyak file di beberapa tahun belakangan, buanyaaaaak. Seandainya bercerita disini bisa sekonsisten rotasi bumi terhadap matahari dan bulan, pasti begitu menumpuk draft yang justru tidak dibagikan atau unshared di blog. Ingat ya langka bisa jadi jarang, karena terjerumus golongan penulis diary di lembaran buku bukan blogger kategori advanced. Kebisaan menulis yang melumpuh, membeku, bisa jadi hampir tidak berdaya lagi. Kemampuan mengunyah bacaan buku yang menurun karena (lagi dan lagi) kesibukan dijadikan kambing hitam. Mbhatin.. “Dasar kambing, kasian kamu”. Tapi jangan tanya untuk keahlian membaca kolom – kolom komentar social media. Duh beda genre. Keahlian yang tidak seberapa itu pun menjadi begitu dimanja. Duh (lagi.)

((Tarik nafas (lagi) lebih panjang))

“Apa kabarmu sekarang?”

Di depan mata, kehebohan menjadi wasit dari dua anak aktif, satu suami zuper-aktif,  satu lembaga eksis English Studio dan kira-kira apalagi yang akan coming soon ya. Entah apalah saya ini tanpa kalian yang membuat diri semakin menjadi-jadi. Salah satunya, jadi mondar mandir antar jemput Jakarta – Pare via terminal – terminal di Soekarno Hatta dan Juanda atau menikmati deretan sawah hijau sekaligus lorong dalam gerbong Bangunkarta yang kemudian akhirnya turun di pojok stasiun Kediri. Bisa jadi itu semua sudah dimasukkan ke dalam daftar perjalanan rutin. Terbesit “beginilah bocah rantau”.

Benar – benar mengisi hari dan klise banget kalau kadang ngga bikin cenut – cenut akuuuut. Ngaku, ayo ngaku? Salam dari saya, ibu muda yang masih (diam – diam seringkali) terngingang Peterpan Album Alexandria.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.