Perjalanan Persalinan Pertama si Arrhytmia (Part 1)

“Persalinan dilakukan setelah kami memastikan denyut jantung Ibu ya.” singkatnya.

Penjelasan singkat Dr. Dewi Ratih SPOG yang udah bolak balik ruang observasi 3 kali untuk make sure gw nervous akut atau memang ada yang ngga beres dengan si denyut sambil memberikan kode arahan ke suster stand by.

Dan, gw ngapain? Tetiba nangis seketika dong. Karena ngga tau sebenarnya ada apa. Tapi isak-isak, merendahkan suara biar ibu-ibu persiapan kelahiran di kanan-kiri ngga ikutan panik juga. Ngeles, padahal biar ngga malu ajaaaa. Btw, kamar observasi ini adalah ruangan check-and-recheck pasien sebelum masuk ruangan tindakan. Ada 6 slot tempat tidur dan perangkat lengkap diatur rapi bersebelahan. Pasien diberikan piyama merah muda, tertanda pasien observasi persalinan.

Ibu yang pernah melahirkan kurang lebih tau persis persiapan mentalnya seperti apa. Bukan, bukan karena gw ngga terima dan ngotot bisa menikmati proses lahiran normal. Dari trimester akhir pun udah mencicil mental (berjaga) seandainya bukan persalinan normal tapi C Section. Dan pengalaman pertama lo baru aja dimulai, Nya.

Kehamilan Trimester Akhir

Semuanya berjalan normal, memasuki Minggu ke-32 ternyata menyaksikan posisi kepala bayi di atas dan kaki – kaki kecil si Embun berenang menghadap ke bawah. (Rasanya langsung mau nyanyi kaki di kepala – kepala di kaki #Eh) Dan gw masih berusaha santai, ditambah mulai konsisten latihan suggesti dokter sekaligus wejangan Mama. “Masih ada waktu, masih bisa diusahakan persalinan normal ya.” Selipan semangat dari Dr. Dewi.

Kalau masih ada yang ngga tau Embun, bisa cek ini Siapa Embun?

Nah dari sini, merasa sepertinya perlu (juga) mempersiapkan mental untuk persalinan C Section. Meski berat bayi OK, posisi bayi OK, BB ibu OK, kesehatan keduanya juga OK, semua normal-normal aja, tapi ngga ada salahnyalah untuk tau detail lahiran sesar tuh gimana sih? Begitulah si Anya, akan selalu ada Plan B setelah Plan A, sodara – sodara.

Udah sebulan berjalan, sudah mendekati Minggu persalinan. Ternyata jadwal check up sesi temu kangen sama si calon bayi semakin sering dari per-bulan, per-2 minggu sampai akhirnya seminggu sekali. Letak kepala si Embun emang udah di bawah tapi belum on track, belum masuk di jalur lahir alias posisi miring dan gw lupa dia ke arah Barat Daya, Timur Laut atau Tenggara. Kalau West Life atau N Sync asalnya dari mana? Miring terusss, kapten. Sepertinya masih betah berenang di dalam yesssss.

Diskusi di akhir sesi memang sudah setuju kalau mengarahkan persalinan ke proses C Section dan dipersilahkan memutuskan tanggal terkece sebelum memasuki hari H. Ngga mau bersembunyi di balik si tanggal kece, ini tetap dengan bahan pertimbangan jadwal suami, jadwal dokter terutama kesehatan ibu. Stamina OK dan mental lagi ON, jadi ngga butuh waktu lamalah untuk amanah tanggal.

Akhirnya, fiks memantapkan hati untuk hari H. Apapun doa dan ikhtiar terbaik dilakukan barangkali memang sudah arah takdirnya, insya Allah semua lancar. Ngga henti berdoa dan pasrah. Sebesar apapun usaha yang lo lakukan, yang ter-baik cuma yang ditetapkan Dia, Nya. Pasrah on point.

Ndredeg di Ruang Observasi

20 April. Yeaaaay hari persalinan. Campur aduk rasanya, super excited dan mellow antara mau ketemu si bayi. Mau merasakan proses persalinan, mau semuanya cepat selesai tapi juga yang paling sering lewat tanpa permisi di pikiran dan selalu gw pertanyakan adalah apa kira – kira gw akan selamat dalam proses?

Rasanya, pelan – pelan mau gw hapus pertanyaan itu pakai pylox kuning glow in the dark terus diganti sama kata – kata AMAN – AMAN – AMAN – LANCAR – LANCAR – LANCAR. Berusaha mensugesti diri sendiri untuk kesekian kalinya lebih legowo dan siap lahir bathin. Dan waktu persalinan sebentar lagi. Begini ya ternyata rasanya mau melahirkan. Gelisah tapi acting tenang. Banyak nulis apa aja di Notes hp dan intensitas ngaji jadi extra double kye beli cheese burger extra.

Sesuai arahan suster sebelumnya, kasih reminder wajib puasa sejak bangun pagi Subuh ditambah mengurangi asupan makan dengan porsi besar di malam H-1. Okehlah manut. Datang lebih awal sesuai jadwal jam 7 pagi untuk melakukan observasi bayi dan ibu. Beberapa tes dijalani, mulai dari skin test cekit-cekit, cek CTG detak jantung bayi, berat badan dan terakhir bonus cek EKG jantung ibundaaaah.

ctg_anyaenya

Ritme Cardiotograph (CTG) Janin di Kandungan

Okeh, laporan EKG ibu udah keluar dan barulah Dr. Dewi visit ke slot dimana gw lagi bobo – bobo ngga santai dengan muka nervous. Iyalah karena ini pengalaman pertama, datang ke Rumah Sakit aja lengkap dikawal tim. Ada Mama, Bapak dan suami. Jujur agak bingung dan penasaran, karena suster dan dokter mulai double check EKG gw yang sepertinya njelimet lebih dari persoalan telur atau ayam duluan yang terlahir di muka bumi.

“Persalinan dilakukan setelah kami memastikan denyut jantung Ibu ya.” singkatnya.

Penjelasan pendek Dr. Dewi Ratih yang udah bolak balik ruang observasi 3 kali untuk make sure gw nervous akut atau memang ada yang ngga beres sama si denyut sambil memberikan kode arahan ke suster stand by.

Masih di ruangan observasi, selang berapa menit kemudian muncul beberapa dokter di depan slot tempat tidur. Masing dari mereka memperkenalkan diri selain Dr. Dewi Ratih, dokter kandungan yang udah familiar karena tiap bulan ketemu. Dan, dokter spog perempuan yang cukup responsif dan komunikatif versi gw.

Ada Dr. Joko Waskito, sebagai dokter anestesi di ruang tindakan nantinya. Selain itu, ada dokter anak Dr. Arkhan Arif. Last but not least ya, ada satu lagi dokter yang tiba – tiba nyumbul dari balik tirai, iya dia Dr. Parmono sebagai dokter Spesialis Jantung. Hah, kok bisa ada tambahan pendamping dokter JANTUNG??? Pantes gw dapat cek EKG karena CTG si janin aja ternyata ngga cukup. Iya, Elektrokardiogram itu semacam merekam aktivitas “listrik” jantung atau anggap aja ngcek aktivitas denyut si jantung ibu.

Dan perjalanan masih berlanjut disini, di ruang dingin.

Thanks for reading my moments.

One Reply to “Perjalanan Persalinan Pertama si Arrhytmia (Part 1)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.