Perjalanan Persalinan Pertama si Arrhythmia (Part 3 – End)

Sebentar, sebentar. Operasi sedang berlangsung, mungkin kira – kira udah running setengah jam lebih terus dada gw sesak. Tiba – tiba sesak. Nyesegggggg. I need my oxygen. Berusaha untuk menarik nafas panjang supaya ritme tetap stabil. Tapi lebih lengkapnya melewati sesak nafas ada disini ya.

Kamu, yang ditunggu – tunggu akhirnya datang juga.

Hai, My Sayang..

anyaenya1

Dokumentasi by Dr Kamarudin Harahap (Dokter Senior Anestesi RS Puri Cinere)

Yang dinanti akhirnya muncul ke permukaan dan suara tangisan si kecil menggelegar se-ruangan. “Bayi dibersihkan dulu ya bu, baru IMD.” Gerakan suster sambil mengarahkan supaya si Ibu baru ini bersabar untuk menunggu. Sus, aku tuh orangnya kuat ko, kuaaaaat banget. Kalo cuma menunggu, apalagi kalau yang ditunggu ngga ada kabarnya, yawda dikuat-kuatin. Eh, woy salah scene.

“Wah, nangisnya kenceng juga ya.” Mata gw sambil mencari – cari ke arah suara. Ternyata si kecil mandi dulu setelah dikeluarkan dari rahim, dibersihkan kemudian diselimuti. Angeeet beneeeer. Posisi gw gimana? Iya, masih di atas meja operasi dan belum diperbolehkan melihat posisi perut karena terhalang kain hijau di depan dada yang dipasang sebagai pembatas.

Sementara tim dokter masih sibuk dengan separuh badan gw yang lain, gw tetap fokus melirik si kecil.

Okeh, lihat suster berjalan ke arah gw untuk proses IMD. “Bu, perempuan. Ini dia putri cantiknya. Yuk kita IMD.” baru kali pertama lihat dan gw terharu bangeeeeet, ternyata ini si Embun kecil. Matanya masih sipit dan kulitnya me-merah. Nya, proses operasi ngga nangis, lihat anak langsung mbrebes miliiiii gini. Ya Gusti ciptaan-Mu.

“Assalamualaikum, hai kecil..” udah respon pertama gw itu aja. Speechless, terus dilanjut cium keningnya. Emak-emak abis persalinan pasti tau deh rasanya. Campur aduk, karena bisa liat si jabang bayi yang berminggu-minggu gelayutan di uterus ibu dan sekarang dia tidur di dada untuk IMD (Inisiasi Menyusui Dini). “Thank God. Nikmat-Mu ruaaaaar biasaaaa.”

Ngga lama setelah si kecil berhasil IMD, suster minta izin membawanya ke ruang bayi untuk di observasi sekaligus udah saatnya temu kangen sama si pak suami, dan ngga boleh terlewat untuk memberi lantunan azan.

Jadi, gimana Nya proses persalinannya? Rasanya kalau ada yang bertanya, gw akan kasih slot memori ingatan yang udah otomatis ter-convert by zip kirim via email. Semuanya lengkap disana, lengkap di ingatan termasuk rasanya. Mungkin si ibu kecil ini ngga melahirkan dengan proses normal, tapi rasanya berjuang dengan nyawa dan ini ngga bisa dibandingkan dan tak ternilai dengan apa pun.

Jadi kalau masih ada aja di luar sana meributkan tentang persalinan normal lebih baik daripada sesar, atau sebaliknya dan masih nguwel itu-lagi-itu-lagi. Gw akan nyeleneh. Come onlah kita ini sama – sama perempuan, ngga perlu saling menjatuhkan mana yang terbaik dan paling suci. Kudunya saling support, bukan saling semprot. Masing – masing pasti ada lebih dan kurangnya, keputusan keduanya pun atas dasar pertimbangan yang matang. Kitu, bu-ibu. Kituuuuuu nyaaaa.

Dan ternyata perjalanan persalinan gw ngga hanya sampai di meja operasi aja. Siang kemarin, setelah proses di ruang tindakan selesai, gw harus sesegera mungkin ditransfer ke ruang lain. Bukan ruang kamar ibu ataupun recovery room seperti ibu normal lainnya. Bisa klik disini prosesnya Merinding, Tengah Malam di Ruang HICU.

I am trying to remember my stories.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.