Perjalanan Persalinan Pertama si Arrhytmia (Part 2)

“Dan, sudah dipastikan memang tidak bisa persalinan normal ya bu, fiks sesar…,” Dr. Dewi sambil menjelaskan kalau kita akan masuk ruang tindakan setelah Zuhur jam 13:00. Diselipkan lagi pesan untuk berdoa dan berharap semoga prosesnya bisa berjalan lancar. Setelah semua dokter satu-per-satu pergi hilang dari balik tirai, di situ juga gw merasa takut, losing power sesaat.

Ndredeg itu belum juga bisa hilang rasanya, beberapa dokter hadir dalam ruang observasi siang ini. Seperti apa kata lembaran pertama yang gw tulis disini 

She listen to you. Your baby, Nya. What do you think of and what you do. Come on wake up, Nya.” Si kecil juga pasti ngga kalah deg-degannya dari gw, tendangan dan gerakan sikutnya semakin aktif di beberapa menit belakangan. Sebelum Dr. Ratih menjelaskan keputusan final tersebut, Dr. Pramono mendatangi untuk memberikan penjelasan.

My Name “Arrhythmia”

Dok: Ibu atlet runner ya?

Gw: Ngga dok. (Kalau lari dari kenyataan yang begitu pelik kadang yaaaa kurang lebih begitulah. Eh, cuma gumam dalam hati loh ya)

Dok: Maaf, Ibu pernah menggunakan obat – obatan seperti narkoba? Sering pingsan atau sering merasa nyeri di dada kanan atau kiri?

Gw: Hah, ngga pernah dok. Merokok aja ngga. Ada apa ya, dok? Pingsan seingatku pernah pas SMA, mungkin kecapean dan opname 3-4 hari karena typhus. Terus pernah jatuh dari motor pas kuliah, itupun masih sanggup bawa motor dari Gandaria ke Cipete Raya setelahnya pakai kapas alkohol untuk bersihkan luka tiba – tiba seperti black out ngga sadarkan diri sekitar 5 menitan. Itupun kata kakak saya ya.

Ini nih kalo nyeri dada-pun hampir ngga pernah. (Tapi ya gitu dok, beda kasus kalo nyeri dada akibat putus hubungan sama si anu. Duh ampunilah hamba, Gustiku nu Agung)

Dok: Sebelumnya, ngga pernah cek EKG mungkin pas cek kesehatan detail?

Gw: Seingat saya belum dok, ini pengalaman pertama CTG dan EKG.

Setelahnya, Dr. Pramono bicara kalau dari laporan EKG menjelaskan indikasi adanya kelainan denyut jantung. Perlu dipastikan observasi peninjauan kembali secara detail kalau gw ini bisa jadi ternyata mengidap Arrhythmia yang baru diketahui sekarang.

Tidak ada yang terlambat, dokter spesialis ini juga menguatkan setelah proses persalinan wajib melakukan recheck kembali si power jantung. Karena indikasinya mengarah kesana dengan kasus penyakit bawaan lahir yang tidak terdeteksi dari kecil. Shocked!! Sejadi-jadinya kaget dan speechless. Apalagi liat si Mama, mukanya seketika pucet udah bisa ditebak Mama lebih panik dari gw.

Surprise! Siapa yang sangka dalam hitungan 2-3 jam sebelum operasi pertama dan proses persalinan pertama gw ternyata terdeteksi Arrhythmia. Ngga ada yang benar-benar mengguatkan kecuali pemikiran kita sendiri, ada untungnya juga pernah ikut modul Reza Gunawan. Berusaha untuk benar-benar serelaks mungkin. Relaks ya, Ibu – ibu.

See, kadang idup tuh sering banget kasih gift yang kita ngga duga-duga sebelumnya. Jadi, apapun itu, siap-ngga-siap kita wajib terima kalau kenyataan suka meleset atau melesat dari prediksi yang kita mau atau rencanakan, baik atau buruk.

“Gift-nya dikasih lebih awal nih. Okelah.” Sesekali terlintas. Mau dibuat setenang mungkin, tapi hati sama pikiran benar – benar belum synchronize. Ngga mau berlama – lama protes. Sekali lagi cuma legowo yang di punya, gw punya.

Mau tau ngga apa yang dilakukan Pak Suami? Eddy dan Mama adalah sama dengan ( = ) alias sama paniknya. Gerak gerik gelisah, switch off and on hp, geser kursor ke atas – ke bawah tanpa dia tau harus apa kecuali menguatkan si istri yang sedikit unstable.

“Kamu takut? kalau takut kita pulang aja.” Katanya meledek. Benar – benar ice breaking banget, antara mau nangis dan ketawa. Ketika melihat Pak suami ternyata lebih panik dari si istri. Tapi ini justru yang membuat waras. Kalau gw yang ngga bisa lebih tenang, secara langsung bisa kirim transversal gelisah ke orang terdekat. Be calm, Nya. The best mantra is relax-relax-relax.

Se-Relaks ini di Ruang Operasi

anyaenya2

Dokumentasi by Dr Kamarudin Harahap (Dokter Senior Anestesi RS Puri Cinere)

Here we go. Now is your turn, Nya. Dari kamar observasi, bergeser masuk ke ruang tindakan. Ada 3 lapis ruang sepertinya, pertama masuk di ruang antri pasien. Setelah absensi, berganti dari piyama pink ke hijau.

Terus bergeser ke dalam, masih sempat juga celingak-celinguk lihat ruangan pemulihan bagi pasien yang sudah melakukan operasi. Setelahnya inilah the real ruang dingin, ruang operasinya.

Mari kita absen pemilik tangan ajaib di ruang dingin. Masih ada Dr. Dewi Ratih dibantu Dr. Dewi Purbaningrum untuk proses sesarnya. Kemudian, Dr. Joko Waskito digantikan Dr. Kamarudin ‘Opung’ Harahap untuk relawan fotografer terbaik sekaligus dokter anestesi tulang belakang yang rasanya Allahuakbar, sekali lagi ibu – ibu Allahuakbar.

Ada Dr. Yudi spesialis jantung yang tiba-tiba mengganti posisi Dr. Pramono. Beliau yang mengawasi bagaimana runningnya denyut jantung saat tindakan. Ditambah formasi makin lengkap dengan beberapa suster yang beneran sigapnya diacungi jempol banget.

“Bu, tidak bisa bius total ya supaya menjaga ibu tetap sadar. Jadi, hanya sebagian dari bagian perut ke bawah yang kami bius.” Sesaat Dr. Dewi konfirmasi.

Setelah semua siap, suster membuat absensi recording yang terdengar tidak jauh dari atas kepala. Nextnya, Dr. Dewi memimpin tim untuk berdoa dan prosesi baru aja dimulai. Gw gimana? Manut, ga berhenti untuk berdoa dalam hati dan menjawab satu-per-satu pertanyaan dari para dokter.

Pintar – pintarlah menjaga pikiran, kalau ngga bisa bahaya. Awal berpikir di dalam ruang tindakan akan setegang seperti bayangan, ternyata cukup relaks. Guyonan terus, sisss. Suara siaran dari Cosmopolitan FM masih bisa gw dengar jelas dan lagu yang on play, “Aku mau makan ku ingat kamu, aku mau tidur ku ingat kamu..”, ada yang tau ngga siy itu lagu siapa. Why oh why?

Ruangan dingin suasananya hangat banget, tapi ya gitu lampu meja operasi tetap silau. Mbathin, “Dok permisi dok, kita ngga lagi sesi pemotretan kan ya? Lightingnya silau banget diatas kepala. Butuh sunglasses dok.” Dokter berganti tanya ke pasien yang tergeletak lunglay ini, aisssss… Ow, mungkin trik ya cara mereka make sure kondisi si Ibu tetap terjaga dengan berpikir dan ngga tegang. Gw berusaha untuk benar – benar sadar dan menerka – nerka “Ini lagi proses apa ya? Selanjutnya, proses apa ya?” dan selalu begitu.

Pingpong pertanyaan mulai dari apakah mual? Apakah mau nambah anak lagi setelah ini? Kira-kira mau diberi nama siapa? Dan Dr. Dewi selalu memberikan konfirmasi setiap dia memulai tindakan.“Masih kerasa cubitan saya?” atau “Bu, kami mulai untuk membuka kandungannya ya. Bismillah.” 

Sebentar, sebentar. Operasi sedang berlangsung, mungkin kira – kira udah running setengah jam lebih terus dada gw sesak. Tiba – tiba sesak. Nyesegggggg. I need my oxygen. Berusaha untuk menarik nafas panjang, supaya ritme tetap stabil. Dr. Yudi masih dampingi di sebelah dan terdengar bisik “Denyut OK meski tidak stabil.” Menerka-nerka rupanya mereka berusaha memiringkan badan si ibu untuk angkat si kecil keluar dari ambal nyamannya. Sesaat setelah si kecil dikeluarkan dan nafas mulai kembali normal. Ya Gusti, seperti ini rasanya.

Dan sesi yang paling ditunggu adalah “Alhamdulillah, perempuan bu.” Tangisannya menggemparkan ruangan, beneran cempreng banget. Sampai akhirnya ada konfirmasi lagi, “Bu, saya mulai membersihkan dan menjahit perutnya kembali ya.Dokter-suster tetap saling melempar candaan juga termasuk bicara hosip-hosip remah, hebatnya mereka tetap fokus. Iyalah.

Semua pergerakan dari suntikan di tulang belakang, kaki dan perut yang mulai kebal, bagian kaki yang di tekuk, badan yang dimiringkan, candaan dokter-suster, silaunya cahaya selaras mata, nafas yang sesak,  mual dan muntah. Belum lagi dinginnya ruangan, mesin deteksi denyut yang berbunyi, kembang – kempis si pompa oksigen, si bayi yang diangkat, tangisan si kecil, perut yang terasa sangat lapar, setelahnya. Ini, ini dia moment yang selalu teringat dan ngga bisa lupa setiap detailnya.

Tunggu, tunggu di lembar berikut gw juga akan share kenapa gw ngga dikirim ke recovery room tapi justru ke Ruang HICU (Intensive Care Unit). Sungguh, kalau boleh meminta ngga mau banget meski cuma semalam. Ini, disini ya.

Btw, ada yang tau Arrhythmia? Ada yang tau seperti apa Ruang HICU? Coba luangkan waktu 5 menit aja untuk googling sebentar, search apa itu keduanya.

.

I “live in” my journey.

2 Replies to “Perjalanan Persalinan Pertama si Arrhytmia (Part 2)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.