BunSay4 JaTim2 | Pra BunSay 3 | Self Healing

Tulisan dibawah ini digunakan sebagai Kata Pengantar menuju tugas inti.

.

Saya menulis lembaran Rabu hangat ini persis setelah long run meeting di kantor. Masih dalam keadaan terpatuk migrain dan mendadak #MellowGarisKeras sore ini dibuatnya.

Setelah intip materi rupanya beneran bikin mbrebes mili, Bu Fasil. Dan wajib dikerjakan secepat kilat. Oh No, semua ber-deadline.

anyaenya.com

Ada Cinta di Self Healing

Semakin hari pertemuan materi BunSay ini serasa menghidupkan chemistry. Iya, isyarat yang terbangun antara saya dan kamu, BunSay IIP. Sore ini saya terdiam dan tetiba membisu oleh kiriman Ibu Peri di sudut Google Classroom seperti biasanya.

“Bisakah saya men-skip materi ini? Saya harus cerita darimana?? Saya meraba darimana??”

Pelajaran kali ini bukan hanya menghidupkan kita, tapi slow motion mengaktifkan tombol kenangan buruk dari rasa yang udah disimpan, dibuka perlahan untuk disembuhkan. Sungguh si kenangan kadang 70% masih ngekor. Bagaimana sisanya? Dibuat bahagia versi setting-an sendiri. Pinter-pinter bikin diri happy deh.

Pemahaman saya tersangkut dengan proses setelah kenangan terbuka, kita dituntun untuk berikan stimulasi Maaf-Memaafkan dan menerima kesalahan terdahulu dalam lingkaran luka, yang hasil akhir adalah menjadi pribadi dengan versi terbarukan dan lebih b-a-h-a-g-i-a ceunaaaah.

Canggih ngga tuh?? Tapi semua ini kembali ke diri, apakah gerbang hati mengizinkan untuk membuka kemudian memperbaikinya. Rumit banget ya, seperti hitungan matematika bagian sin cos tan. Nguweeeel kabeh. Mumet.

Bisa ngga? Untuk beberapa kasus, udah bisa ko lewatinnya meski gelayutan di ranting-ranting pohon. Mensugesti dengan berbagai cara. Saya begitu persisten berusaha dan mencoba untuk tidak ada give up, Bu Fasil. Majuuu terusss dengan segala kengoyoan yang saya miliki.

Jangan bosan mengulas sedikit tentang Self Healing, juga salah satu cara Modul Reza Gunawan yang works pernah saya cicipi sedikit tahun 2013 lalu di Dharmawangsa Square, Jakarta. Bukan modul komplit. Hanya ajang uji coba untuk diri saya pada saat itu. Udah lama banget ya.

Salah satu fungsi tools ini digodok untuk mengobati rasa sakit atau kecewa nyelekit-kit di masa lalu atau kemarin dengan cara menerima, memaafkan dan jreeeng kemudian berubah jadi kodok. Oh No pleaseee, ngga deng. Berubah menjadi Re-New You! Dan secara sadar-tidak-sadar saya menggunakannya dalam perjalanan.

Kalau boleh menyimpulkan dan flash back sedikit.

Kehidupan masa kecil hingga dewasa, saya lalui begitu mudah dan menyenangkan. Orang tua, keluarga sekaligus banyak sahabat mengasihi dengan seribu cinta. Meskipun si introvert ini ya kawannya cuma itu-lagi-itu-aja. Suka duka tertelan dan merasa semua begitu indah ngga ada duanya.

Semua bisa dikatakan berjalan begitu mulus, seperti kehidupan perempuan menapaki level pada umumnya. Mainstreamlah. Yakin mulus? Iya, meski terselip satu dua hal yang njelimet ikut terseret sampai sekarang, mengganjal “nyeseeggg” dan entah kapan part itu bisa menguap, so far muluslah.

Sampai pada akhirnya saya menikah, dan semuanya baru saja dimulai. “Perjalanan panjang baru aja dimulai, Nya.” Bismillah, sambil pegang erat keyakinan karena udah ngga bisa lagi pegangan dan gelayutan di ranting pohon.

Disini dan hanya teruntuk Ibu Fasil seorang Klik di sini, Bu Fasil. Iya, tentang deretan rasa syukur dan afirmasi yang kapasitasnya saya perluas hari-demi-hari meski bersembunyi di balik pincangnya rasa si Anya

______________________________________

Begitu dahsyatnya, aura positif inner child yang diturunkan orang tua dulu. Terbukti, nyatanya menolong saya dan berguna saat ini, mungkin hingga ratusan tahun ke depan.

Dari ini semua, sebenarnya siapa yang saya jaga? Iya, rasa syukur dan bahagia pada diri. Merawat cinta dari self healing, menumbuhkan keyakinan hari-ke-hari. Membuka diri menerima kenyataan “yang bukan maumu” menjadi sebuah kado terbaik semakin hari saya akui dan lalui.

Pelan-pelan mulai mencintai diri sendiri. Mengguncangkan diri untuk selalu sadar. Menulis dan (sering kali) meniupkan banyak syukur atas energi yang diturunkan-Nya kepada saya.

.

Apa yang sudah kamu coba? Maafkan, terima dan lalui dengan bahagia. Selalu fardhu ain untuk diulangi.

Peluk hangat, Bu Fasil.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.