BunSay4 JaTim | Game Level 8 | Cerdas Finansial | Aliran Sayang | Coba Warisi Anak Kemampuan “Melek Finansial”

Dear mama – mama onlineku semua. Azeeeeek, serasa sedang mengirimkan surat cinta ya. Akhirnya, saya menulis “karya kuliah BunSay” kembali di blog setelah beberapa episode hanya menuliskannya di buku harian saja berupa hand writing ampe keriting, terus di foto cekrak-cekrek.

______________________________________

Okelah. Kita semua tahu finansial sebenarnya termasuk salah satu hal yang sensitif untuk dibawa ke permukaan. Iya, perihal “money-money-money” di rumah. Karena sepertinya berhubungan dengan finansial secara tidak langsung dapat menerawang “isi dapur” seseorang.

Mau-tidak-mau, kemampuan mengolah finansial akan diberikan kepada anak atau keturunan melalui stimulus yang saban hari diberikan, meski hal itu dimulai dari “membawa sekotak makanan ke sekolah”.

Ambil Sisi Positif Ah Ma Su Yi dari Novel “Rich People Problems”

Cerita beken turunan dari Crazy Rich Asian berikutnya adalah Rich People Problems karya Kevin Kwan, memang nyatanya membuat kita terbelalak akan kisah penyandang status terkaya di dunia salah satunya berasal dari daratan Asia.

ALIRANRASA_GAME8

Disini sepotong kisah seorang ibu sekaligus Ah Ma (nenek) dari Tyersall Park, Singapura yang membiayai keluarga besarnya selama sembilan dekade. Semasa hidupnya, mereka tumbuh dan bergerak dengan gaya hidup level premium dengan banyak pemborosan dimana – mana, salah satunya dengan menyediakan tujuh puluh pembantu dalam satu kediaman. Semacam VVVVIP gitulah ya.

Keluarga tidak pernah tahu bahwa Ah Ma Su Yi sapaan akrabnya menyembunyikan hal besar. Sampai pada akhirnya setelah ia wafat, pembaca waris menguak sebuah kenyataan bahwa sebenarnya keluarga yang termasyur dari Cameron Highlands tersebut hidup dan besar dari dana perwalian sebuah perusahaan yang hanya diwasiatkan kepada nenek Su Yi semasa hidupnya.

Jadi, bagaimana jika neneknya wafat? Ya jelas dana perwalian otomatis terputus. Dan dari kenyataan ini keluarga shock berat, sejadi-jadinya.

Sebagian keluarga merasa kaget, karena selain kehilangan neneknya, anak-anak dan cucu juga akan kehilangan kemewahan area bergengsi yang mereka agungkan tersebut. Kekhawatiran semakin menjadi karena mereka pikir kemudian jatuh miskin seketika dan rela-tidak-rela menurunkan standar kegengsian hidup karena rupanya mereka tidak bergelimang harta, seperti yang dipikirkan sebelumnya.

Mengambil sisi positif dari kisah tersebut yakni bahwa sebenarnya kita pribadi perlu dan wajib mengerti pentingnya pelajari konsep tentang finansial. Supaya tidak miss split alias salah kaprah. Dengan kemewahan lantas tidak membuat kita seolah akan dikelilingi rasa aman sepanjang hidup, kemudian bisa seenaknya melakukan tindakan secara impulsif tanpa ada efisiensi sedikit-pun. Ini kacau balau hanya berpikir sekedar gengsi akan standar hidup. Alamakjaaaaaang, ibarat kata itu kulit terluar loh padahal.

Iya, karena bagian yang ter-essential sebenarnya adalah cara berpikir tentang finansial itu sendiri yang kelak bisa menyita perhatian kita secara turun temurun.

Kisah ini juga kemudian merefleksikan diri saya, “Ya Gusti, jadi malu karena pernah ada masa dimana tidak-sadar-kalau-boros dulu atau kemarin, karena bisa jadi sikap yang dilakukan saya saat itu akan diwariskan kepada keturunan saya kelak. Kalau tidak merubah pola pikir dari sekarang, bagaimana diri kita atau anak cucu nanti?? Padahal setiap jengkal harta yang didapat dan dikeluarkan akan dipertanggung-jawabkan dihadapan-Nya kelak.” Eliiing mak, eliiiing ceritanya.

Saya rasa setiap person pernah melalui masanya tentang finansial. Dari masa pernah boros, kemudian beralih ke masa yang lebih teratur sampai ada di masa investasi. Alhamdulillah, fase saya ada dibagian terakhir mulai terbangun dan insya Allah terus akan berkembang. Bismillah.

“Nyelengin Receh”, Bagian dari Melek Finansial

By the way, ingat celengan jadi ingat kisah tentang tuyul – tuyul makmur versi Mba Lola tempo hari di grup besar BunSay Jatim. Tapi jangan biarkan tuyul-tuyul yang entah nyata/tidak (Wallahualam) bisa melenyapkan cara berpikir untuk mengatur dan mengajarkan mengenai cerdas finansial kepada anak.

Salah satunya adalah Kakak di-treatment bab efisiensi uang yang  hampir 70% adalah nyelengin receh berupa koin atau uang kertas masuk celengan. Diulang lagi, koin masuk celengan. Diulang terus dan terus. Karena mengajarkan sesuatu yang anyar untuk anak – anak di rumah itu butuh waktuuuu banget. Sabar adalah koentji.

Dari era anak lagi doyannya pegang buku, dipindah ke era pegang celengan. Butuh waktu, wahai mama – mama onlineku semua.

Selain itu saya juga mengajarkan bab guna pakai uang. Nah ini, tantangan mengajarkan kepada anak Balita tentang trik guna pakai uang bukan hanya dengan sekali sample. Apalagi yang tipikal jarang diajak jajan. Eeeeeeeeeh jarang loh ya bukan berarti tidak pernah. Pernah jajan sesekali, apalagi anak – anak paham konsep cokelat KinderJ di depan kasir Indomeret itu perlu diambil dan dibeli, meski ngga pernah diajari. Mesti langsung gerak cepat tangan mereka. Duuuh!

Dalam trik guna pakai uang, Kakak diajarkan membayar sejumlah uang kepada kasir untuk membeli barang atau makanan. Dari sini Kakak terlihat bisa dan paham, mungkin karena pernah melihat orang tuanya melakukan hal yang sama. Dengan diakhiri menerima makanan atau barang yang dibeli kemudian memberikan salamnya ke kasir, “Terimakasih, Mba..”

Baiiiiiik, itulah salah dua gerakan pemahaman saya dan Kakak dalam belajar, mengajarkan kembali sekaligus merefleksi diri di slot cerdas finansial.

Selamat berpuasa di bulan Ramadan semoga kita semua dipenuhi keberkahan dari Gusti nu Agung. Sampai jumpa di tantangan berikut. Btw, jangan lupa THR sebentar lagi turun ya, ibooooo ibooooo 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.