BunSay4 JaTim2 | Game Level 1 | Aliran Sayang | Komunikasi Produktif

7130b0f9-4ddb-4052-83a9-7abef3eb1be1

Credit Photo by @meun (Sahabat dalam perjalanan di Sumba)

Berlabel sebagai anak komunikasi (terkadang) tidak jua membuat saya lebih pintar dalam mengutarakan sesuatu hal.

Pada kenyataannya, terbiasa melakukan hal dengan tangan sendiri tanpa meminta bantuan dari orang lain. “Kalau masih sanggup sendiri akan dikerjakan semampuku.” Padahal se-mandiri-nya seorang istri kadang perlu juga terlihat sedikit ‘tak sanggup’ di depan Pak Suami supaya ia merasa dibutuhkan dan berperan. Pernah gini ngga bu-ibu? Atau malah sering setting “Owalah ndak iso aku”, meski sebenarnya bisa.

Materi Komunikasi Produktif ini lagi – lagi seolah membuat saya kembali mengaitkan dengan komunikasi one-on-one sehari – hari dengan keluarga kecil di rumah. Me-review apakah selama ini ada yang kurang dari cara, gesture hingga bahan pembicaraan yang didiskusikan baik kepada Pak Suami ataupun Bro & Sist Kecil Bersaudara.

Meski sering juga menemui kendala daripada berhasil. Kadang Pak Suami alot diajak diskusi atau kesulitan mengarahkan anak yang mengikuti maunya orang dewasa. Bersabarlah Mamak, semua ini adalah proses panjang yang akan kamu tuai manis keesokan harinya. Bersabarlah. Ini sedang menyakinkan diri sendiri loh ya.

Komunikasi produktif kali ini saya pahami ia mengantongi kemampuan terhebat dalam behind the scene-nya adalah kunci bersabar. Ngaturaken sembah nuwun sanget, Institut Ibu Profesional – Bunda Sayang.

“Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (Q.S. Asy-Syuura 43).

Mohon bersabar hidup ini ujian, pemirsah.

BunSay4 JaTim2 | Kom-Prod | Level1Day11 | Adek Me-Lego

Tugas bu, tugas ojolali.

Alhamdulillah setelah sembuh dari sakit, belakangan Adek menjadi sehat dan segar bugar kembali, sangat aktif dalam banyak gerakan. Bisa lari loncat sana – sini, dorong meja – kursi sampai angkat – angkat pot bunga Mamak. Segala aktivitas fisik yang membuat lengan anak cowok ini makin kekar saya rasa. “Okeh, finally my boy is back!”

Komunikasi Produktif kali ini sambil membersamai Adek bermain lego. Ujug – ujug karena sering melihat di ruangan dokter anak hampir kebanyakan menyediakan permainan lego, jadi ikutanlah cicil perlengkapan mainan lego anak. Ya, yang murah meriah aja dulu, ndak usah beli yang perkayuan dulu karena pasti mesti ngintip dan hunting via online shop. Belum sempat, maaaaak.

Lego – lego – lego adalah permainan yang dicari Adek ketika bangun tidur sampai mau tidur. Dia lebih senang menyibukkan dirinya dengan utak atik kubus – kubus plastik ini.

Mamak jadi lebih happy karena dikutip dari pernyataan Dr. Ratih Ibrahim sebagai psikolog bilang, “Imajinasi dan kreativitas anak pun berkembang melalui cara membuat bangunan, mengombinasi warna, dan lainnya.” Nah, salah satunya dengan lego. Perlu disupport nih si Adek, namanya juga orang tua belajar kasih stimulasi ke anak ya.

anyaenya-com_komprod11
Masya Allah, Adek yang sedang heboh dengan mainannya.

Adek : “Lego, lego, lego…”  Sambil oprek – oprek mainannya

Bund : “Adek udah sehat ya, senang Bund lihatnya. Pas banget Yangti sama Akung dateng kamu sehatan. Alhamdulillah.”

Bund : “Iya, Bund senang Adek jadi mau makan banyak lagi, aktif lagi. Semoga kita sekeluarga dikasih sehat terus ya sama Allah.” Sambil melihat Adek masih mainan di depan Mamak

Bund : “Adek suka banget main lego ya? Bund baru bisa belikan yang ini. Besok insya Allah Bund sempatkan cari yang kayu – kayu ya seperti yang ada di Ruangan Dokter Rusmala itu. Bagus ya.”

Meski si anak dua tahun ini belum bawel tapi saya meraba dari gesture dan ekspresi wajah cerianya dan sering kali tiba – tiba kebiasaan Adek yang ngga pernah malu – malu untuk memeluk hangat sekaligus mencium pipi dan kening Bund. Mudah – mudahan bisa sampai besar berekspresi seperti ini dengan Mamaknya. Hahaha.