Berbekal Kursi Roda, Tetap Semangat Belajar di Kampung Inggris Pare

UNOEDUTRAVEL – SETIAP tahun, Kampung Inggris Pare selalu dipadati oleh ribuan peserta kursus yang datang silih berganti untuk mengikuti kegiatan belajar bahasa Inggris.

Di area Kampung Inggris Pare ini, siapapun berhak mengikuti pendidikan bahasa Inggris tanpa terkecuali. Senada dalam keputusan Undang – Undang Dasar Tahun 1945 Pasal 31 Ayat 1 bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan.

Begitu pula dengan salah satu peserta kursus asal Jombang – Jawa Timur yang membawa semangat tinggi belajar, meski memiliki keterbatasan pada fisik dengan mengandalkan kursi roda sebagai alat bantunya. Namun, hal ini tidak menyurutkan niat besarnya untuk memperluas pengetahuan dengan mempelajari bahasa Inggris.

 “Saya datang ke Kampung Inggris Pare ingin mengembangkan bakat dalam bahasa Inggris, dan secara khusus ambil program speaking,” Ujar Shifa salah satu peserta kursus disabilitas saat ditemui tim UNO usai kelas Step One – Daffodils di Jalan Pancawarna No. 7, Pare Kediri – Jawa Timur beberapa waktu lalu.

“Tempat – tempat kursus di Kampung Inggris Pare ini sangat mengapresiasi dan menyambut baik siswa berkebutuhan khusus seperti saya,” ungkap wanita yang tergabung dalam lembaga Cacat Tubuh Indonesia wilayah Jombang ini. “Selama masih bisa mengikuti materi pembelajaran di kelas sepertinya tidak ada masalah.”

Menariknya, Shifa—sapaan akrab wanita yang sejak 3 (tiga) tahun silam tergabung dalam lembaga bagi kaum disabilitas, secara khusus mengasah kemampuan bahasa Inggrisnya dengan mengikuti spesialisasi program speaking di dua tempat kursus di Kampung Inggris Pare.

Program ini diambil oleh wanita yang memiliki profesi sebagai pengusaha muda bidang garmen sekaligus pengajar menjahit di wilayah Jombang, bertujuan untuk terus mengasah kreativitas berbahasa serta kontinyu berkomunikasi dalam penggunaan bahasa Inggris. Banyak program dan metode pengajaran di Kampung Inggris Pare menurutnya—warga asli asal Jombang ini, yang bisa mendongkrak kemampuan para peserta.

Selain itu, Shifa juga berharap agar sahabat – sahabat berkebutuhan khusus seperti dirinya tidak berkecil hati untuk terus selalu mengasah bakat terutama kemampuan dalam berbahasa. Ini akan menjadi salah satu batu loncatan yang sangat bermanfaat dan memperkaya diri.

Eksplorasi Keunikan “Kampung Bahasa” di Timur Jawa

tumblr_n0tw7jPUJx1r2pxmoo2_400

Koran Jakarta (Edisi 22 Pebruari 2014) / Teks : Diah Kurnia / Photo : Dory Atma

(Slice of Paragraphs)

“Kampung Bahasa seperti ladang mimpi dan bahasa Inggris-lah yang menjadi bibit mimpinya.” (Diah Kurnia)

Sejarah Berdirinya Kampung Bahasa

Memasuki satu daerah rasanya kurang lengkap tanpa mengetahui bagaimana sejarah terbentuknya satu daerah yang kini dilabeli khusus dengan nama “Kampung Bahasa”.

Berbicara mengenai wilayah di timur Jawa ini, tidak lepas dari sosok “M. Kalend Osen” yang telah berperan besar sebagai pelopor berdirinya Kampung Bahasa pada 1977 silam. Melalui perbincangan langsung dengan pria asal Tenggarong, Kalimantan Timur ini mengutarakan bahwa semua berawal dari sebuah kebetulan.

“Sebenarnya, daerah ini diberi nama Kampung Bahasa. Lambat laun, semakin banyaknya pemberitaan di media dan pembentukan opini masyarakat, maka terbentuklah sebutan lain yaitu Kampung Inggris Pare. Mungkin, karena dominan di daerah ini banyak dibangun lembaga kursus bahasa Inggris. Ini sah-sah saja bagi saya, selama masih positif.” Ungkap pria pemilik sekaligus pengajar aktif di lembaga Basic English School.

Tempat Kursus, Tempat Tinggal Hingga Daerah Wisata

Tumbuh kembang lembaga kursus di Kampung Bahasa memang sangat dinamis dan pesat. Berdasarkan data statistik terakhir yang diperoleh dari Kepala Dusun Tegalsari, Pare, Kediri Desember 2013 lalu, total lembaga kursus kini berjumlah 148 lembaga kursus terdiri dari 128 di Tulung Rejo dan 20 di Pelem.

“Pertumbuhan lembaga kursus di Kampung Bahasa sangat meningkat. Rencana mendatang, daerah ini dipersiapkan sebagai area percontohan dan kampung wisata edukasi. Tentunya, harus ada kerjasama yang kooperatif  antara lembaga kursus dengan pemerintahan setempat.” Ungkap Bapak Matsuri selaku Kepala Dusun Tegalsari saat ditemui dikediamannya di Jalan Asparaga, Pare, Kediri, Jawa Timur.

Kebenaran adanya demam bahasa Inggris seharusnya selalu ditanamkan dan dipertahankan dalam diri para pembelajar. Mengapa? Jika diperhatikan belakangan, banyaknya warga pendatang yang silih-berganti ditambah kekendoran disiplin untuk melakukan percakapan dalam bahasa Inggris sesama para pelajar, dapat menimbulkan hasil dan image bahwa lingkungan di sekitar lembaga kursus Kampung Inggris tidak lagi aktif berbahasa Inggris.

Begitu pula dengan salah satu peserta kursus asal Jombang – Jawa Timur yang membawa semangat tinggi belajar. Meski memiliki keterbatasan fisik dengan mengandalkan kursi roda sebagai alat bantu dalam berjalan, namun hal ini tidak menyurutkan keinginannya untuk memperluas pengetahuan dengan mempelajari bahasa Inggris.

 “Saya datang ke Kampung Bahasa ini ingin mengembangkan bakat dalam bahasa Inggris dan secara khusus mengambil program speaking,” Ujar Shifa salah satu peserta kursus disabilitas saat ditemui.

“Tempat – tempat kursus di Kampung Inggris Pare ini sangat mengapresiasi dan menyambut baik siswa berkebutuhan khusus seperti saya,” ungkap wanita yang tergabung dalam lembaga Cacat Tubuh Indonesia wilayah Jombang ini. “Selama masih bisa mengikuti materi pembelajaran di kelas sepertinya tidak ada masalah.”

Selengkapnya di Koran Jakarta, Sabtu 22 Pebruari 2014.

Thanks Koran Jakarta!

Catatan Kecil:

Pare, 09 April 2012. 21:09 WIB

“1 jam perjalanan dari stasiun Jombang (Surabaya) tepat dari pemberhentian kereta Bangunkarta, kemarin subuh. Tebak sekarang dimana? Di Kampung Inggris Pare, Kediri, Jawa Timur. Kesan pertama, Pare vanaaaasss! Siang membakar kulit, malam dingin semriwing! Mirip Majenang (Jawa Tengah)—lokasi dimana kampung halaman orang tua saya berasal—cuacanya hari ini.”

Begitulah sekiranya deretan tulisan tangan saya sebagai celoteh pembuka dalam buku wordisme, setelah sampai di Kampung Bahasa*. Menuliskan kembali berbagai cerita harian selama kedatangan di dua bulan pertama sejak April 2012 lalu di Kampung Bahasa pada perangkat notebook kesayangan tentu sangat mengasikkan.

Sayangnya, nasi sudah menjadi bubur. Semua tulisan, data, dan beberapa portfolio kerjaan raib dalam sekejap dikarenakan “sebut saja si virus alay” menyerang yang entah darimana datangnya. Kemudian membekukan mini perpustakaan saya menjadi sandi atau kalau diperhatikan menjadi tulisan G403L 3rr012! 48aB1L-5E3L4MA7-C451AN-C3MO3N6O3D-EU4444 (Ha!) Dan hebatnya, tidak bisa dikembalikan. “Nasib saja bisa diubah, data termakan virus kenapa ngga bisa!” ungkapku rela-tak-rela.

Malam ini, satu artikel selesai. Sebuah tulisan membabi-buta sebanyak kurang lebih 10rebu karakter didedikasikan kepada tulisan – tulisan saya yang raib kala itu. Itulah beberapa diantara potongan – potongan paragraf dalam tulisan.

(*) Mengganti nama Kampung Inggris Pare menjadi Kampung Bahasa. Karena baru benar – benar tahu alasan sebenarnya–kenapa orang banyak menyebutkan Kampung Inggris Pare–secara langsung dari pencetus daerahnya. Jadi, berinisiatif harus meluruskan sesuai nama asli: Kampung Bahasa.

4 YEARS AGO