Yang Tak Terbendung (4 Tahun Lalu)

Bukti 4 tahun lalu, ternyata sungguh emosional 🙂

Hingga hujan masih terus berulang memiliki gravitasi jatuh ke permukaan, terserap menuju kedalaman tanah dan pergi menyelinap ke hulu laut. Hingga itu-pun diri masih beeeeeeer-proses.

Separuh hidup bergelimang ketidak-tahuan. Sebagian hidup, dibiarkan dengan banyak teori “menerima-menolak” atau “menolak-menerima” selalu begitu.

Spekulatif!

Biar sajalah, menggeluti benar dari salah yang terbuat. (ter- : tidak sengaja dibuat menjadi ada) Kemudian, diperbaiki. Menemani arah mengalir bagai kuda pacu atau kelinci Anggora berlarian. Nikmati saja hari. Bentara segala riang, seseguk tangis, peluk bahkan peluhnya. Tingkah dan sikap yang terkadang konyol, hidup yang terkadang menjemukan, waktu yang begitu singkat. Diiiiiiiinikmati. Tertawa sajalah. Kecaman kecamuk rasa terkadang menipu. Menipu dengan tawa hingga seseguk. Aku dalam buncah. Lagu keras meraung. Nyeri terpinggirkan senyum. Dalam hidup yang tak terbendung.

Selamat malam.