Tenun Lurik SYORAYA

(DESAINER MODA / Majalah NOOR / Desember 2013 / Teks by Diah Kurnia)

 

Berangkat dari sebuah kegemaran menggambar sejak kecil kemudian berkembang menjadi seorang desainer fashion muslim. Kini, Syoraya asal Bengkulu berdiri di belakang label busana muslimnya sendiri, yakni SYORAYA. Perkembangan mode busana muslim semakin merambah, inilah yang menjadi celah peluang bagi wanita kelahiran 16 April. Syoraya menyuguhkan detail, konsep serta kejelian dalam melihat pasar sehingga lahirlah karya besar dalam dunia fashion muslim sejak 2010 lalu.
Magnet dalam mode fashion muslim yang ia geluti begitu kuat, sehingga Syoraya mampu membuktikan identitas diri sebagai desainer dengan mengangkat kearifan budaya lokal dalam setiap rancangan busananya. Hal ini tentu ia wujudkan melalui busana penuh cita rasa Nusantara pada koleksi Trend Fashion 2014 mendatang bertemakan Sagacity.Menariknya, tema ini diambil dari penggabungan dongeng – dongeng Asia yang dibawa dalam kehidupan masa kini, yakni dongeng Lurik dari daerah Jawa, Indonesia. Lurik ini sendiri dibuat dalam sehelai selendang kemudian dapat berfungsi sebagai kemben hingga kain gendong. Syoraya mengangkat tenun lurik berkesan etnik dan klasik sekaligus membudidayakan kain Indonesia yang dimasukan dalam konsep busana ready to wear. Sangat cocok bagi wanita aktif pada acara formal atau semi formal dengan warna garis tegas.

Kecantikan busana oleh wanita yang menyandang gelarMagister Sains Of Psychology ini memberikan point of interest dengan detail pada bagian pinggang ke bawah. Salah satunya, cutting blazer yang dibuat menutup pinggul dengan menambahkan kain lurik, dibentuk 2 (dua) tingkat sehingga sesuai dengan konsep busana muslim, menambah kesan elegan dan syar’i. Selain itu, Syoraya juga memasukkan tema Volcanize dengan warna sedimen tanah dan oranye yang merefleksikan emosi lahar sebuah gunung.

Banyak hal menginspirasi karya tangan dinginnya, “Karena ide adalah sesuatu yang abstrak, jadi segala sesuatu bisa menjadi inspirasi kemudian dikreasikan sekaligus dituangkan dalam rancangan busana saya. Terkadang liburan atau hanya sekedar mendinginkan kepala bisa melahirkan sebuah ide.” Ungkap Syoraya menjelaskan mengenai inspirasinya.

Meski belajar secara otodidak, wanita muda ini juga mengakui memang membutuhkan waktu dan penuh kesabaran untuk melihat perkembangan dunia desain, baik belajar bertindak cepat, sampai belajar mengkombinasikan agar karyanya selalu inovatif. Melakoni peran sebagai seorang desainer busana muslim tentu memiliki tantangan besar dengan selalu belajar memahami wawasan tentang dunia fashion selanjutnya konsisten dengan label yang diciptakan hingga berkembang.

MALIKA Kembangkan Kain Tenun Indonesia

(DESAINER MODA / Majalah NOOR / Desember 2013 / Teks by Diah Kurnia)

Kini, fashion hijab senantiasa mengalami kemajuan pesat berikut dengan kemunculan para desainer busana muslim tanah air. Nama Ulfa Bhre Craft House turut serta di dalamnya. Wanita cantik yang berkecimpung dalam parade busana muslim bersama komunitas MODA sejak tahun 2012 ini rupanya memiliki ketertarikan besar terhadap Stagen yang dimasukan dalam setiap rancangannya.

Berkat kepiawaian merancang kain stagen, Ulfa yang semula memiliki label NADeschJA by Bhre Craft House (2011) pernah beberapa kali meraih prestasi, diantaranya Penghargaan Kementerian Koperasi dan UKM sebagai Produk Kreatif Berbahan Dasar Stagen pada April 2013. Selain itu, ia juga menyabet penghargaan Lomba Desain Busana sebagai Peringkat ke 3 dalam rangka hari besar sebuah komunitas hijab pada Desember 2012 lalu.

Seperti kita ketahui, bahwa Stagen merupakan kain tenun yang dilingkarkan ke bagian perut, kebanyakan digunakan oleh perempuan. Penggunaan stagen yang semakin berkurang bahkan hampir terlupakan inilah yang melatarbelakangi wanita bernama lengkap Fairuzaqona Ulfaty untuk memperkenalkan kembali kain stagen dalam label busana muslim MALIKA miliknya kepada masyarakat dengan berbagai inovasi.

“Sekarang, kain stagen sudah hampir terlupakan sedangkan para pengrajin tenun stagen di Yogyakarta masih konsisten berproduksi. Sayang sekali jika kain stagen ini hilang begitu saja,” ungkap wanita kelahiran 26 Oktober ini menjelaskan ketertarikannya kepada kain stagen.

“Jika diperhatikan kain stagen ini sangat unik teksturnya. Cocok sekali jika diaplikasikan dengan karakter rancangan label MALIKA, seperti memiliki tantangan tersendiri untuk menaklukan kain dengan lebar 14 cm ini.” Jelas wanita yang memiliki hobby hunting kain Nusantara ini menerangkan.

Senada dengan koleksi MALIKA dengan mengusung karakter kuatnya yang simple, stylish and glam, kali ini wanita yang rupanya lulusan akademisi farmasi tetap mengedepankan stagen sebagai benang merah pada rancangan Trend Fashion 2014. Bertemakan Touch of Royal (Royal Rose) pada gaun panjang dengan center of interest anyaman stagen di bagian dada. Nuansa sederhana namun tetap anggun.

“Inspirasi gaun ini datang dari Royal Wedding di Yogya beberapa waktu lalu. Kagum akan kesederhanaannya, nampak elegan namun tetap berkelas. Selain itu, bunga-bunga di sekeliling memberi saya insprasi pada corak gaun. Sedangkan katun tenun dobby dan pure silk juga mendominasi, berikut dengan pewarnaan dan pembatikan yang saya lakukan sendiri diatas kain stagen dan tenun tersebut.” Ujar Ulfa menjelaskan secara detail mengenai rancangan untuk 2014 mendatang.

Menariknya, wanita yang menggeluti dunia desain sejak tahun 2007 ini mempelajari rancangan busana muslim secara otodidak dengan banyak membaca literatur dan rajin mengikuti workshop. Dari situlah bermunculan ide – ide baru untuk terus bereksplorasi dan berinovasi dalam setiap rancangannya. Ketertarikan yang kuat dalam mendesain busana muslim, melewati masa – masa inkubasi hingga akhirnya menemukan karakter MALIKA yang kini sangat diterima oleh pasar, tentu dengan konsep busana muslim nan syar’i.

Proses selalu menunjukan hasilnya, begitu pula dengan Ulfa BCH yang berawal sejak merancang busana pernikahannya sendiri kemudian kini, mendapati tantangan terbesar menjadi seorang desainer untuk selalu terus berkarya dengan memproduksi custom order dan ready to wear. Dari situlah seorang desainer, menurut wanita yang menyandang gelar apoteker ini tidak cukup hanya memahami desain dan pola saja, namun dituntut untuk memahami manajemen, strategi bisnis, pemasaran, sampai pricing agar produknya ters berkembang.

“Agar selalu produktif, tidak cepat puas adalah refleksi dari sebuah long life learner. Sehingga selalu berupaya mengeksplorasi dan berinovasi. Dan bagian terpenting, selalu berusaha dekat dengan Allah dan memaknai bekerja sebagai ibadah.” Ungkap wanita yang terus bergerak mengembangkan MALIKA dan para pengrajin stagen ini.

Create your website at WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: